You Are Here: Home» Pendidikan , Politik » Manakala kemenangan itu hanya diartikan berhasil menumbangkan rezim orde baru,

Manakala kemenangan itu hanya diartikan berhasil menumbangkan rezim orde baru, maka mungkin benar, gerakan itu disebut menang. Akan tetapi kalau makna kemenangan itu lebih jauh, yaitu menghapus praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, maka sebenarnya reformasi di negeri ini masih bisa disebut gagal.

Kata menang atau kemenangan ternyata memiliki arti yang bermacam -macam tergantung pada konteknya. Menang bisa dikaitkan dengan  perlombaan, pertandingan, perlawanan, kompetisi, dan masih banyak lagi lainnya.  Kata menang dalam perlombaan dan sejenisnya digunakan untuk menunjukkan siapa yang  unggul dan  berhasil mengalahkan pihak lawan atau kompetitornya.

Disebut menang dalam perlombaan bertinju misalnya, jika  yang bersangkutan bisa  berhasil menjatuhkan lawannya, dan bahkan mati, atau setidak-tidaknya tidak kuat lagi meneruskan pertandingan. Atau, pemenang dimaksud  mendapatkan  skor lebih banyak, oleh karena secara  fisik dan taktik streteginya lebih unggul,  dan begitu pula sebaliknya, bagi yang kalah.

Istilah menang juga digunakan dalam politik. Maka ada istilah partai pemenang dalam pemilihan umum,  menang dalam pemilihan pejabat politik, menang dalam pemungutan suara,  dan lain-lain. Pemenang dalam politik, apalagi dalam sistem demokrasi, adalah mereka yang mendapatkan dukungan suara terbanyak.

Akan  tetapi,  kemenangan tidak selalu membuat pihak lawannya menderita. Pihak yang kalah dalam kontek terakhir ini,  justru menjadi lebih unggul. Misalnya, menang dalam berdakwah. Disebut menang dalam berdakwah, manakala pihak-pihak yang dijadikan sasaran dakwah  justru menjadi lebih unggul. Dakwah Islam disebut menang manakala masyarakat yang dijadikan sasarannya menjadi muslim, lebih baju, adil, dan makmur. Dalam keadaan seperti ini, dakwah disebut berhasil dan kemudian umat Islam disebut menang.       

Akhir-akhir ini orang menyebut bahwa gerakan reformasi di negeri ini mengalami kemenangan. Disebut demikian oleh karena berhasil menumbangkan rezim orde baru yang telah berkuasa puluhan tahun. Gerakan reformasi muncul dimaksudkan untuk membangun tatanan sosial yang adil, demokratis, dan terbebas dari noda-noda buruk seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang berakibat mensengsarakan rakyat.

Manakala kemenangan itu hanya diartikan berhasil menumbangkan rezim orde baru,  maka mungkin benar, gerakan itu disebut menang.  Akan tetapi kalau makna kemenangan itu lebih jauh, yaitu menghapus praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, maka sebenarnya reformasi di negeri ini masih bisa  disebut gagal. Sebab, ternyata di era reformasi ini korupsi, kolusi dan nepotisme justru semakin marak.

Selain itu kata menang juga digunakan untuk menyatakan keberhasilan. Orang berpuasa disebut sedang memerangi hawa nafsu. Siapapun yang berhasil menjalankan puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh maka disebut telah meraih kemenangan. Mereka dianggap menang dalam melawan hawa nafsu, atau menang dalam memerangi dirinya sendiri. Dalam konteks ini, kemenangan tidak ada pihak yang dikalahkan, kecuali dirinya sendiri yang sedang melakukan perang melawan hawa nafsu itu.

Dari uraian tersebut maka bisa dimengerti bahwa menang tidak harus berarti mengalahkan pihak lain,  dan  menjadikan pihak lawan mengalami penderitaan. Disebut menang dalam bertinju, berperang, dan sejenisnya, manakala pihak lawan jatuh dan bahkan mati. Akan tetapi menang dalam berdakwah, adalah  tatkala pihak lawannnya justru berubah menjadi lebih baik dan maju. Selain itu, disebut menang manakala kegiatan, gerakan, atau aktifitas yang dilakukan  berhasil meraih apa yang menjadi tujuan atau cita-citanya.

Reformasi misalnya, disebut menang mestinya tidak saja ketika bangunan kepantaian berubah, beberapa orang berhasil tampil ke panggung politik, dan seterusnya, melainkan ketika demokrasi yang dikembangkan berhasil memakmurkan rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme yang selama ini menjadikan rakyat menderita. Namun apalabila  dengan reformasi itu rakyat tetap menderita dan bahkan penyimpangan justru bertambah,--------- baik kualitas maupun kuantitasnya, maka boleh-boleh saja reformasi disebut gagal atau kalah. Wallahu a’lam    

0 komentar

Leave a Reply