You Are Here: Home» » Pengertian bahwa dalam berdakwah seharusnya dilakukan dengan arif,

Pengertian bahwa dalam berdakwah seharusnya dilakukan  dengan arif, sebenarnya telah diketahui oleh banyak orang. Dakwah seharusnya memang begitu. Orang biasanya tidak selalu mau digurui, disalahkan, disinggung perasaannya,  dan apalagi diolok-olok. Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang   sekecil apapun, yang bersangkutan  tidak mau diungkapkan, apalagi di depan orang banyak. 

Memang maksud berdakwah adalah ingin memberikan pengetahuan baru sebagai cara untuk mengubah perilaku, kebiasaan, dan juga keyakinan. Akan tetapi berdakwah tidaklah  selalu mudah membawa hasil.  Orang pada umumnya  menginkan perubahan. Dan, perubahan itu dapat diraih manakala ada kesediaan untuk menerima informasi, pengetahuan baru, nasehat,  dan sejenisnya.  Namun  pada kenyataannya belum tentu orang mau diberi informasi, apalagi digurui atau diajari. Itulah sebabnya, dalam berdakwah perlu kearifan itu.

Ketika datang ke Tual, Maluku, saya mendapatkan pengalaman  menarik tentang dakwah yang dilakukan oleh seorang Pimpinan Muhammadiyah. Dia menjelaskan bahwa,  dakwahnya dilakukan dengan cara  bertahap dan tanpa menyalahkan apa yang dilakukan masyarakat sebelumnya.  Dia memberikan pengakuan, penghargaan, dan berusaha tidak menyinggung perasaan siapapun. Dai Muhammadiyah ini paham bahwa siapapun tidak mau dianggap salah dan apalagi bodoh.

Dalam hal pelaksanaan tarweh misalnya, dia mengakui bahwa  sejak zaman syahabat dulu bilangan rakaatnya ada dua puluh. Oleh karena itu tatkala  para ulama di daerah ini telah lama membimbing umatnya menjalankan tarweh sebanyak dua puluh rakaat tidak dianggap keliru. Namun  da’i Muhammadiyah ini usul, bahwa dengan alasan  banyak jama’ah yang berusia lanjut,  dan juga anak-anak yang masih dalam taraf pelatihan, maka  jumlah raka’at dalam tarweh diajak mengambil hanya delapan raka’at saja. Dikatakan bahwa,  Nabi  menurut Aisyah, -----isterinya,  pernah shalat sampai semalaman hingga kakinya bengkak. Tapi juga pernah shalat tarweh hanya delapan rakaat saja.

Melalui penjelasan yang simpatik dan bahkan juga dibarengi dengan empatik seperti itu, ternyata masyarakat menerimanya. Akan tetapi, sekalipun tarwehnya hanya delapan raka’at, bacaan shalawat   di antara salam  setiap dua rakaat masih dilakukan. Demikian pula  doa kunut,  wiridan,   dan juga berdoa bersama tetap dipertahankan. Rupanya pengenalan terhadap paham Muhammadiyah yang dilakukan secara bertahap dan tidak ada pihak-pihak manapun yang merasa tidak mendapatkan penghargaan, maka akhirnya dakwah tersebut tidak melahirkan gejolak dan bahkan berhasil  diterima dengan baik.

Mendengar penjelasan itu, saya merasa mendapatkan pengalaman baru. Dengan pendekatan itu, maka masyarakat tetap bersatu. Bahkan rupanya, identitas lama juga tidak terganggu. Masyarakat kemudian bisa menerimanya. Umpama cara-cara seperti itu dilakukan pada tataran yang lebih luas, maka gesekan-gesekan antar kelompok umat Islam bisa dieliminasi, sehingga persatuan umat berhasil dipelihara. Maka itulah pentingnya kearifan dalam berdakwah. Wallahu a’lam. 
Tags:

0 komentar

Leave a Reply