You Are Here: Home» Pendidikan , Politik » Setiap negara memiliki simbol dan atau lambang, seperti bendera, lagu kebangsaan, dan filsafat hidup bangsa.

 Setiap negara memiliki simbol dan atau  lambang, seperti bendera, lagu kebangsaan, dan filsafat hidup bangsa. Simbol dan lambang itu dirasakan sebagai milik dan identitas dirinya. Bendera merah putih, burung garuda,  dan lagu indonesia raya adalah beberapa dari lambang  dan simbol  bangsa Indonesia.
Negara ini akan tetap berdiri kokoh manakala dibela sepenuhnya orang rakyatnya. Oleh karena itu maka,  kecintaan terhadap negara harus selalu ditumbuh-kembangkan dan dipupuk terus menerus. Kemauan dan kesediaan untuk membela  negara akan tumbuh manakala ada kecintaan terhadapnya. 

Setiap negara memiliki simbol dan atau  lambang, seperti bendera, lagu kebangsaan, dan filsafat hidup bangsa. Simbol dan lambang itu dirasakan sebagai milik dan identitas dirinya. Bendera merah putih, burung garuda,  dan lagu indonesia raya adalah beberapa dari lambang  dan simbol  bangsa Indonesia.

Sebagai milik dan sekaligus identitas, maka lambang dan simbol itu  dicintai, dan juga dibela dari semua hal yang dianggap menganggu, merusak, dan atau merendahkan. Pembelaan itu kadang luar biasa. Mereka sanggup  berkorban jiwa dan raga, manakala lambang dan simbol itu diganggu atau sekedar ditempatkan pada tempat yang tidak semestinya.

Namun kecintaan terhadap simbol dan lambang itu harus dipelihara secara terus menerus, agar benar-benar menjadi identitas yang selalu dibela. Caranya adalah bermacam-macam. Dulu, di antaranya,  anak-anak sekolah dibiasakan berbaris sambil memegang bendera, menyanyikan lagu-lagu  kebangsaan, diselenggarakan upacara dan menyanyikan lagu  Indonesia raya. Kegiatan itu sederhana, tetapi ternyata berhasil melahirkan  rasa pembelaan dan bahkan kecintaan yang luar biasa terhadap bangsanya.

Pada akhir-akhir ini, kegiatan semacam itu masih ada, tetapi intensitasnya terasa semakin melemah. Jarang sekali,  kita menyaksikan anak-anak diajak berbaris dan membawa bendera bersama-sama. Padahal  itu sangat penting dialami agar tumbuh kecintaan dan kebanggaannya  itu. Sekedar membawa bendera saja, seolah-olah sudah merasa memiliki sepenuhnya dan telah membela bangsanya sendiri.

Upaya-upaya menanamkan kecintaan terhadap bangsa dan negara, akhir-akhir ini justru terganggu.  Pemberantasan korupsi yang sedemikian gencar, dan lebih-lebih pada setiap hari terdengar para pemimpin bangsa dimasukkan ke penjara,  akan menjadikan generasai anak bangsa ini jengkel, dan boleh jadi,  akan berakibat lahirnya kebencian terhadap negara dan bangsanya sendiri.

Kekecewaan itu juga akan muncul dari berita-berita tentang ketidak adilan, sulitnya mencari pekerjaan, berbagai penyimpangan para aparatur negara,  bahkan juga keharusan anak-anak muda  merantau ke negeri orang sekedar mencari sesuap nasi. Dengan demikian pintu-pintu untuk melahirkan kebanggan terhadap bangsa dan negara menjadi semakin sempit dan bahkan yang terjadi adalah justru sebaliknya.   

Oleh karena itu kiranya perlu ada reorientasi pendidikan yang mengarah kepada kecintaan terhadap bangsa ini. Jangan sampai, pertumbuhan anak-anak justru terbebani oleh negara dan bangsa  lewat kebijakan yang tidak terlalu jelas.  Berbagai kebijakan harus berhasil menumbuhkan rasa bangga, suasana heroik untuk membela negara, dan bahkan kesediaan berkorban atas kecintaannya terhadap bangsanya sendiri.

Memang anak-anak perlu dibebani, misalnya dengan ujian negara. Akan tetapi kebijakan itu tidak boleh hingga  justru menumbuhkembangkan semangat menyimpang, merasa tidak dipercaya, diperberat, dan apalagi diperlakukan secara tidak adil. Beban yang tidak dipahami secara sempurna akan melahirkan kebencian atau setidak-tidaknya suasana  keterpaksaan oleh karena dianggap tidak perlu.  

Fenomena corat-coret baju seragam, pawai liar, dan pesta berlebihan pasca pengumuman ujian nasional di seluruh tanah air,  seharusnya  dipahami secara baik,  apakah hal itu termasuk pertanda mereka semakin tumbuh kecintaannya terhadap bangsa dan negara, atau   bukankah justru sebaliknya.  Tatkala kebijakan dimaksud hanya dirasakan sekedar sebagai beban, maka bisa jadi,  justru akan  mengganggu  lahirnya kecintaan terhadap bangsa dan negara yang seharusnya ditumbuh-kembangkan.  Wallahu a’lam. 

0 komentar

Leave a Reply