You Are Here: Home» Pendidikan » Tugas dan Tanggung Jawab

Pada  saat sedang menginap di hotel, saya berbincang-bincang dengan manajernya. Perbincangan itu tidak saya rencanakan, hanya kebetulan. Mungkin karena manajer hotel itu sedang longgar, tidak ada pekerjaan,  dan demikian pula saya, sedang menunggu seseorang yang akan bertemu, tatkala duduk-duduk santai di lobby, saya didekati oleh manajer hotel yang saya inapi  itu.

Seseorang yang berpakaian lengkap dengan jas dan dasinya itu segera memperkenalkan diri bahwasanya ia sebagai manajer hotel. Sebagaimana yang biasa saya lakukan, setiap ketemu orang baru, saya  segera mengapresiasi. Saya katakan bahwa hotel ini tampilannya  sederhana, tetapi pelayanannya memuaskan. Maka pantas sekali, saya lihat, penghuninya cukup banyak.

Ucapan saya tersebut rupanya membuat manajer hotel itu gembira. Mendapatkan apresiasi itu, ------tanpa saya minta,  ia kemudian  menceritakan tetang bagaimana merawat kebersiahan, kerapian, dan keindahan bisnisnya itu. Lebih dari itu, ia menjelaskan bagaimana menjadikan para pekerja di hotel itu memiliki komitmen yang tinggi, memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, hingga memuaskan setiap tamu yang menginap di hotelnya itu.    

Dalam setiap pembicaraan dengan orang yang baru saya kenal, saya berusaha memberikan apresiasi kelebihannya. Apa yang saya lakukan itu  bukan bermaksud memuji, tetapi sekedar mengakui prestasi dan kebaikannya. Setiap orang tentu akan merasa senang apabila diakui akunya, tidak terkecuali  manajer hotel itu.  

Apa yang saya lakukan itu sebenarnya terinspirasi dari al Qur’an. Kitab suci itu, pada setiap awal surat,  selalu dimulai dengan basmallah, kecuali surat at taubah. Dari sana kemudian  saya tangkap di antaranya   bahwa,  semua orang menyukai kasih sayang. Dengan kasih sayang yang dirasakan maka setiap orang akan gembira. Siapapun yang berada pada keadaan gembira, senang, puas,  maka akan mudah menangkap pesan-pesan yang disampaikan.   

Manajer hotel itu saya gembirakan dengan mengakui akunya itu. Ternyata benar, ia sangat bergembira dan seolah-olah tidak  mau segera meninggalkan saya sendirian di lobby hotel tersebut. Sesekali di sela-sela pembicaraan, ia mengontrol pekerjaannya hanya lewat tilpun genggamnya. Saya duga, ia ingin menemani saya hingga berlama-lama, oleh karena rupanya ia sangat senang dengan beberapa pengakuan yang saya berikan kepadanya.

Dari pembicaraan itu ia mengaku, bahwa sudah puluhan tahun bekerja di hotel. Ia senang dengan pekerjaannya itu, oleh karena sudah menjadi pilihan hidup dan profesinya. Namun yang selama ini dirasakan sebagai kekurangan dalam hidupnya adalah tidak bisa setiap saat berkumpul dengan keluarga. Antara rumah dan hotel tempat ia bekerja cukup jauh, ialah tidak kurang dari 80 km, sehingga hanya sekali-kali saja pulang ke rumah.

Mendengar ceritanya itu, saya segera menanyakan berapa jam sebenarnya ia harus bekerja di hotel ini. Ternyata jawabannya cukup menarik, bahwa tugasnya hanya sekitar 8 – 9 jam, dari pagi  jam 07.00 hingga jam 16.00,  sebagaimana jumlah jam kerja di tempat lain. Akan tetapi, tanggung jawabnya selama 24 jam. Ia membedakan antara tugas dan tanggung jawab. Tugasnya sehari-hari hanya 9 jam, tetapi tanggung jawabnya selama 24 jam.

Jawaban itu menghentak kesadaran saya. Saya kemudian membayangkan umpama, pegawai di tempat lain, semisal sebagai PNS, termasuk guru dan dosen, juga  memandang seperti itu, ialah tugas dan tanggung jawab dilihat secara terpisah, tetapi ditunaikan semua dengan sebaik-baiknya, maka pelayanan masyarakat akan lebih memuaskan. Sebab dalam kehidupan sehari-hari,  ternyata masih banyak pegawai, tidak terkecuali guru dan dosen mengklaim bahwa tugasnya sekedar  mengajar, dan lupa tentang tanggung jawabnya, yaitu  berupa membangun karakter dan sekaligus mencerdaskan para mahasiswanya.  

Lama  bertugas bisa diukur  dengan satuan waktu, misalnya selama 8 jam atau lebih. Akan  tetapi tanggung jawab tidak demikian. Dua kata tersebut, tugas dan tanggung jawab,  seringkali  ditulis dan diucapkan bersama-sama. Akan tetapi rasanya jarang dimaknai secara benar dan tepat. Sementara orang hanya mengingat tentang jenis tugasnya, tetapi melupakan tanggung jawabnya. Hingga akhirnya,  bahwa yang penting pekerjaan itu telah dilaksanakan sesuai dengan waktunya, dan kurang  peduli terhadap tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Mestinya, keduanya harus diperhatikan sepenuhnya sebagaimana dilakukan oleh manajer hotel itu.

Dalam Islam terkait dengan kerja, harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Bekerja disebutkan dengan istilah amal, dan dikombinasikan dengan kata  shaleh, lalu menjadi amal shaleh. Amal artinya adalah bekerja, sedangkan shaleh adalah benar, tepat, sesuai, sehingga amal shaleh artinya adalah bekerja secara profesional. Selain  itu, juga dikenal dengan istilah ikhsan, yang artinya adalah sebaik-baiknya. Kaum muslimin tatkala menghadapi dua pilihan yang sama-sama baik, maka seharusnya memilih di antaranya yang terbaik. Maka artinya tugas dan tanggung jawab, sebagaimana ajaran Islam, harus ditunaikan sebaik-baiknya untuk membuahkan hasil yang terbaik. Jika demikian itu dilaksanakan, maka umat Islam akan maju,  dan selalu menjadi tauladan kapan dan di mana saja.  Wallahu a’lam.   

Tags: Pendidikan

0 komentar

Leave a Reply